Berbagi Inspirasi Hidupku

Memahami bahasa alam dan kehidupan

Showing posts with label Falsafah Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Falsafah Kehidupan. Show all posts

Sunday, 8 November 2015

Pejuang Kehidupan


Jadilah Pejuang Kehidupan
semangat menapaki hari &
terus berkarya
Read More/Selengkapnya...

Pelaut Sejati



Seorang pelaut tidak akan disebut Pelaut Sejati
sebelum teruji ketangguhannya
menghadapi Ombak & Badai

Begitulah perumpamaan kehidupan ini,
kita harus TANGGUH
hadapi setiap ujian & rintangan.

Read More/Selengkapnya...

Sunday, 24 August 2014

Update Status "Lebay"


"Bagai simponi irama musik instrument bunyi tetesan air hujan pada atap seng asramaku".
....
(sebagian teman nyeletuk:"alaaahhh si Angah, bunyi ujan aja diposting ke status, apa gak ada kata-kata lain apa?" "jangan terlalu puitislaaah, jangan terlalu lebaaayyylaaah..")
....
Sekilas, Status di atas memang tampak sepele, mungkin sebagian bilang itu hal yang tak penting untuk dibicarakan.

Sahabat baikku, pahamilah..., inilah diriku, Aku sangat menyukai menyingkap hikmah atau filosofis fenomena alam yang sebagian orang menganggapnya hal sepele, tapi bagiku tidak. Sebab, dibalik kejadian ada hikmah/pelajaran yang penting, sekecil apapun kejadian itu.

Angah hanya ingin berbagi apa yang sedang terbersit baik dalam hati maupun pikiran.

Semoga statusku bermanfaat baik untukku maupun untuk kalian
Hidup ini mesti berbagi, meski yang kita bagikan hanyalah seuntai kata-kata,
sebab setiap untaian kata dan kalimat itu tersimpan sebuah makna, pesan dan doa untuk kita.

-------------------
Update Facebook: 13 Agustus 2014
Read More/Selengkapnya...

Harmoni Senja

Rona jingga membias di laut, berkilauan bak emas permata
daun nyiur melambai tertiup angin sore
debur ombak menghantam batu karang
dan riak gelombang menyisiri bibir pantai pasir putih
teriak burung-burung laut terbang ke sana ke mari

Cahaya hangat dan berpijar secara harmoni menerpa wajahku
tampak lukisan awan senja membentang dari Sang Maha Indah
Bola pijar itupun mulai terbenam perlahan.

Terbersit dalam benakku seketika itu
perjalanan dan perjuangan selama ini
dalam menempuh ragam liku kehidupan
kebahagiaan dan penderitaan silih berganti
akankah Aku terkecoh dengan itu semua?
ataukah itu hanyalah ujian belaka
demi persiapan diri menuju
perjalanan yang masih panjang
untuk masa depan yang sebenarnya
setelah kematianku dan akhir dunia
yakni kehidupan di akhirat sana.

__________
Posting Facebook: 11 Agustus 2014
Read More/Selengkapnya...

Thursday, 12 April 2012

Jangan Seperti Lilin



Lilin adalah satu di antara produk minyak bumi. Biasa dipasang ketika listrik padam. Atau sengaja memasang lilin di meja makan agar terkesan romantis bagi dua sejoli atau keluarga di rumah. Atau umumnya digunakan untuk upacara atau perayaan agama dan kepercayaan tertentu. 

Ibarat Lilin meleleh
Sahabat pasti tau, bagaimana cara kerja lilin sehingga bisa tetap hidup dan menerangi ruangan kita ?...Ya…benar. sistem pembakaran sumbu dan lilin. Sumbu yang terbalut dalam balutan lilin dibakar lalu api itu memanasi lilin, saat itu juga lilin menjadi bahan pembakar, namun lilin meleleh hingga habis. Kemudian api pun padam.

Apa hubungannya dengan kehidupan?..
Lilin bukan sekedar alat penerang sementara. Namun lilin itu adalah simbol sebuah kehidupan. Ada beragam versi dalam memaknai symbol lilin ini. 

Filosofis Lilin
Versi pertama, Lilin itu ibarat batas usia kehidupan di dunia. Selama “sang lilin” hidup menerangi ruang dan waktu, selama itulah batas hidupnya. “Sang lilin” dimaksudkan sebagai cahaya kehidupan yang kita peroleh di dunia. Jadi sifatnya sementara. Cahaya itu adalah hasil kerja keras kita membakar usia dan masa hidup tapi sayang ia hanya menghabiskan waktunya untuk mencari kehidupan yang sifatnya sementara yakni kehidupan dunia.

Versi kedua, Lilin itu bisa jadi seperti sifat manusia yang suka mengalah & bermental lemah. Jangan sampai seperti lilin yang meleleh, membakar diri dengan sia-sia untuk menerangi orang lain disekitarnya. Ia mengorbankan dirinya demi orang lain. Sepintas itu sangat terpuji. Tapi jika orang lain lebih diutamakan ketimbang dirinya, sama saja ia membakar diri sendiri, menganiaya diri sendiri. Orang lain asyik dan merasa nyaman dengan keberadaan (eksistensi) dirinya yang jenius, pintar dan brilian. Namun sayang, ia diperalat, diperbudak, dimanfaatkan bahkan dicuri ilmunya oleh orang lain, ia tertipu dengan sanjungan dan pujian orang lain. Ia tidak sedikitpun mendapatkan keuntungan dari jerih payahnya, pengorbanan dirinya. Hanya kelelahan, kesengsaraan dan kehancuran dirinya yang ia peroleh.
Kalau begitu kita mesti jadi apa?...

Jadilah Lentera Hidup
Jadi seperti lentera, yaaah…sama aja dengan lilin. Tetap aja pakai bahan bakar minyak. Lentera yang dimaksudkan disini bukan lentera berbahan bakar minyak. Tapi lentera hidup yang terus hidup. “Mana ada yang begitu”. Jika berpikir dengan logika memang itu jawaban yang terlintas dibenak ini. Namun ketika mencoba menyelami alam metafisika maka makna dan substansi yang didapat. Bukankah itu yang terpenting dari sebuah simbol kehidupan?... “Lentera” ini hanyalah istilah konotatif bukan denotatif. Kita mesti menjadi “lentera” kehidupan dan menjaga diri agar tetap bercahaya dengan “bahan bakar” kecerdasan ilmu, keimanan & keikhlasan berbuat untuk Tuhan semata. Niscaya, “lentera” akan hidup selamanya, meski dunia ini telah redup dan mati. 

Pemulung Inspirasi
Read More/Selengkapnya...
Crocodile Print Pointer